Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Saturday, February 23, 2019

Bercinta di Halaman Terbuka Dengan Majikan yang Super Seksi


Saya ingin menceritakan pengalaman seks saya 8 tahun yang lalu, sekarang saya sudah berumur 22 tahun. Setelah tamat dari SMU, saya mencoba merantau ke Jakarta. Aku berasal dari keluarga yang tergolong miskin. Di kampung orang tuaku bekerja sebagai buruh tani. Aku anak pertama dan mempunyai dua orang adik perempuan, yang nota bene tetap bersekolah.

Aku ke Jakarta cuma berbekal ijazah SMU. Dalam perjalanan ke Jakarta, saya selamanya terbayang bakal suatu kegagalan. Apa jadinya saya yang anak desa ini cuma berbekal Ijazah SMU sudi mengadu nasib di kota buas layaknya Jakarta.

Selain berbekal Ijazah yang nyaris tidak ada berarti itu, saya mempunyai keterampilan cuma sebagai supir angkot. Aku mampu menyetir mobil, gara-gara saya di kampung, sehabis pulang sekolah selamanya diajak paman untuk narik angkot. Aku jadi keneknya, paman supirnya.

3 tahun pengalaman jadi awak angkot, memadai membekal saya dengan keterampilan setir mobil. Paman yang melatih saya jadi supir yang handal, baik dan benar didalam mobilisasi kendaraan di jalur raya. Aku selamanya memegang teguh pesan paman, bahwa : mengendarai mobil di jalur harus dengan sopan santun dan berusaha sabar dan mengalah. Pesan ini selamanya kupegang teguh.

Di Jakarta saya numpang di rumah sepupu, yang kebetulan terhitung bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan Pulo Gadung. Kami menempati rumah petak terlalu kecil dan terlalu terlalu sederhana. Lebih sederhana dari rumah jenis RSS ( Rumah Susah Selonjor).

Selain niatku untuk bekerja, saya terhitung bermaksud untuk melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Dua bulan lamanya saya menganggur di Jakrta. Lamar sana sini, jawabnya selamanya klise, ” tidak tersedia lowongan “.

Pada suatu malam, yaitu malam minggu, dikala saya tengah melamun, terdengar orang mengucap salam dari luar. Ku bukakan pintu, ternya pak RT yang datang. Pak RT minta sehingga saya sudi jadi supir khusus dari sebuah keluarga kaya.

Keluarga itu adalah pemilik perusahaan di mana pak RT bekerja sebagai salah seorang staff di cabang perusahaan itu. Sepontan saya menyetujuinya. Esoknya kami berangkat kekawasan elite di Jakarta. Ketika memasuki halaman rumah yang besar layaknya istana itu, hatiku berdebar tak karuan.

Setelah kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama sesudah itu muncul seorang wanita yang tampaknya muda. Kami berikan hormat terhadap wanita itu.

Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, gara-gara dikala dia datang, sepontan saya dan pak RT berdiri berikan salam ” selamat pagi”. Pak RT dipersilahkan kembali ke kantor oleh wanita itu, dan diruangan yang megah itu cuma tersedia saya dan dia si wanita itu.

”Benar anda sudi jadi supir pribadiku ?” tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya.
”Iya Nyonya, saya siap jadi supir nyonya” Jawabku.
”jangan panggil Nyonya, panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya” Sergahnya halus. Aku mengangguk setuju.
”Kamu tetap kuliah ?”
”Tidak nyonya eh…Bu ?!” jawabku.
”Saya baru tamat SMU, tapi saya mempunyai pengalaman jadi supir sudah tiga ahun” sambungku.

Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku hingga saya jadi slah tingkah. Diperhatikannya saya dari atas samapi kebawah.
”kamu tetap muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa sudi jadi supir ?” tanyanya.
”Saya perlu duit untuk kuliah Bu” jawabku.
”Baik, saya setuju, anda jadi supir saya, tapi haru ready tiap-tiap saat. gimana, okey ?”
”Saya siap Bu.” Jawabku.

”Kamu tiap-tiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness, sehabis itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian sehabis sore, anda boleh pulang, gimana siap ?”

Saya siap Bu” Jawabku.
” Oh..ya, siapa namamu ? ” Tanyanya sambil mengulurkan tangannya.

Sepontan saya menyongsong dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman.
”Saya Leman Bu, panggil saja saya Leman” Jawabku.
”Nama yang bagus ya? tau berarti Leman ?” Tanyanya layaknya bercanda.
”Tidak Bu ” Jawabku.
”Leman itu berarti Lelaki Idaman” jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku.

Aku tersenyum sambil tersipu. lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jikalau saya bakal mendapat majikan seramah dan se santai Ibu Maya.

Aku mencoba terhitung untuk bergurau, kuberanita diri untuk menanyakan terhadap beliau.
” Maaf, Bu. jikalau nama Ibu itu Maya, apa berarti Bu ? ”
” O..ooo, itu, Maya berarti bayangan, mampu terhitung berarti khayalan, mampu terhitung sesuatu yang tak tampak, tapi ternyata ada.Seperti halnya cita-citamu yang anda anggap tidak mungkin ternyata suatu selagi mampu anda raih, nah,,,khayalan anda itu berbentuk sesuiatu yang berbentuk maya, ngerti khan ? ” Jawabnya serius.

Aku cuma meng-angguk-angguk saja sok tahu, sok mengerti, sok layaknya orang pintar.

Jika kuperhatikan, body Ibu Maya seksi sekali, tubuhnya tidak trlampau tinggi, tapi padat berisi, langsing, pinggulnya layaknya gitar sepanyol. Yang lebih, gila, pantat bahenol dan buah dadanya wah…wah…wah…puyeng saya melihatnya.

Dirumah yang sebesar itu, cuma tinggal Ibu Maya, Suaminya, dan dua putrinya, yaitu Mira sebagai anak kedua, dan Yanti si bungsu yang tetap duduk di kelas III SMP, putriny yang pertama sekolah mode di Perancis. Pembantunya cuma satu, yaitu Bi Irah, tapi seksinya terhitung luar biasa, janda pula !

Ibu Maya berikan gaji bulanan terlalu besar sekali, dan jikalau difikir-fikir, tidak mungkin sekali. Setelah satu tahu saya bekerja, sudah dua kali dia menaikkan gajiku, Katanya dia senang atas tekun kerjaku. Gaji pertama saja, lebih dari memadai untuk membayar duit kuliahku.

Aku mengambil kuliah di petang hari hingga malam hari disebuah Universitas Swasta. Untuk satu bulan gaji saja, saya mampu untuk membayar cost kuliah empat semster, edan tenan….sekaligus enak…tenan….!!! basic rezeki, tak bakal kemana larinya.

Masuk tahun ke-2 saya bekerja, keakraban dengan Ibu Maya jadi terasa. Setelah pulang Fitness, dia minta jalan-jalan dulu. Yang konyol, dia selamanya duduk di depan, disebelahku, hingga kadang kala saya jadi kagok menyetir, eh…lama lama biasa.

Disuatu hari sepulang dari tempat Fitnes, Ibu Maya minta diatar muncul kota. Seperti biasa dia rubah duduk ke depan. Dia tak risih duduk disebelah supir pribadinya. Ketika tengah berjalan kendaraan kami di jalur tol jagorawi, tiba-tiba Ibu maya menyusuh nemepi sebentar. Aku menepi, dan mesin mobil BMW itu kumatikan. Jantungku berdebar, jangan-jangan tersedia kekeliruan yang saya perbuat.

” Man,?, anda sudah mempunyai pacar ? ” Tanyanya.
” Belum Bu ” Jawabku singkat.
”Sama sekali belum dulu pacaran ?”
” Belum BU, eh…kalau pacar cinta monyet sih dulu Bu, dulu di kampung sewaktu SMP”
” Berapa kali anda pacaran Man ? kerap atau cuma iseng ?” tanyanya lagi.

Aku terdiam sejenak, kubuang jauh-jauh pandanganku kedepan. Tanganku tetap memegang setir mobil. Kutarik nafas dalam-dalam.
”Saya belum dulu pacaran sungguh-sungguh Bu, cuma hanya cintanya anak yang tengah pancaroba” Jawabku menyusul.
“Bagus…bagus…kalau begitu, anda anak yang baik dan jujur ” ujarnya senang sambil menepuk nepuk bahuku.

Aku sempat bingung, kenapa Bu Maya pertanyaannya rada aneh ? terlalu khusus kembali ? apakah saya sudi dijodohkan dengan salah seorang putrinya ? ach….enggak bisa saja rasanya, mustahil, mana bisa saja dia sudi mempunyai menantu anak kampung seprti saya ini ?!

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kepuncak, apalagi hingga jalan-jalan hanya putar-putar saja di kota Sukabumi. Aku heran bin heran, Bu Maya kok jalan-jalan cuma putar-putar kota saja di Sukabumi, dan yang lebih heran lagi, Bu Maya cuma kenakan pakaian Fitness berbentuk celana training dan kaos olah raga.

Setelah sempat makan di rumah makan kecil di puncak, hari sudah terasa gelap dan kami kembali meneruskan perjalanan ke Jakarta. Ditengah perjalanan di jalur yang gelap gulita, Bu Maya minta untu berbelok ke suatu tempat. Aku menurut saja apa perintahnya.

Aku tak kenal tempat itu, yang kutahu cuma berbentuk perkebunan luas dan sepi dan juga gelap gulita. Ditengah kebun itu bu Maya minta kaku berhenti dan mematikan mesin mobil. Aku tetap tak tahu bakal tingkah Bu Maya. Tiba-tiba saja tangan Bu Maya menarik lengaku.

”Coba rebahkan kepalamu di pangkuanku Man ?” Pintanya, saya menurut saja, gara-gara tetap belum mengerti. Astaga….setelah saya merebahkan kepalaku di pangkuan Bu Maya dengan suasana kepala menghadap keatas, kaki menjulur muncul pintu, Bu Maya menarik kaosnya ketas.

Wow…samar-samar kulihat buah dadanya yang besar dan montok. Buah dada itu didekatkan ke wajahku. Lalu dia berbicara ” Cium Man Cium…isaplah, mainkan sayang …?” Pintanya. Baru saya mengerti, Bu Maya mengajak saya ketempat ini hanya melampiaskan nafsunya.

Sebagai laki-laki normal, karuan saja saya bereaksi, kejantananku hidup dan bergairah. Siapa nolak diajak kencan dengan wanita cantik dna seksi layaknya Bu Maya.

Kupegangi tetek Bu Maya yang montok itu, kujilati putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Maya ter engah-engah tak karuan, pertanda nafsu biarahinya tengah naik. Aku tetap mengisap dan menjilati teteknya.

Lalu bu Maya minta sehingga saya bangun sebentar. Dia melorotkan celana trainingnya hingga kebawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Maya kelihatan bugil. Samar-samar oleh cahaya bulan di kegelapan itu.

”Jilat Man jilatlah, saya nafsu sekali, jilat sayang ” Pinta Bu Maya sehingga saya menjilati memeknya. Oh….memek itu besar sekali, menjendol layaknya kura-kura. tampaknya dia tengah birahi sekali, layaknya puting teteknya yang ereksi. Aku menurut saja, layaknya sudah terhipnotis.

Memek Bu Maya wangi sekali, bisa saja sewaktu di restauran tadi dia membersihkan kelaminnya dan berikan wewangian. Sebab dia sempat ke toilet untuk selagi yang lumayang lama. Mungkin disana dia membersihkan diri.

Dia tadi ke tolilet mempunyai dan juga tas pribadinya. Dan disana pula dia mengadakan persiapan untuk menggempur aku. Kujilati liang kemaluan itu, tapi Bu Maya tak puas. Disuruhnya saya muncul mobil dan disusul olehnya.

Bu Maya terhubung bagasi mobil dan mengambil kain semacam karpet kecil lalu dibentangkan diatas rerumputan. Dia merebahkan tubuhnya diatas kain itu dan merentangnya kakinya.

”Ayo Man, lakukan, cuma tersedia kami berdua disini, jangan sia-siakan peluang ini Man, saya sayang anda Man” katanya 1/2 berbisik, Aku tak menjawab, saya cuma jalankan perintahnya, dan sedikit berbicara banyak kerja. Ku membuka seluruh pakaianku, lalu ku tindih tubuh Bu Maya.

Dipeluknya aku, dirogohnya alat kelaminku dan dimasukkan kedalam memeknya. Kami bersetubuh ditengah kebun gelap itu didalam suasana malam yang remang-remang oleh cahaya gemintang di langit. Aku menggenjot memek Bu Maya sekuat mungkin.

”jangan muncul dulua ya ? saya belum puas” Pintanya mesra.

Aku diam saja, saya tetap jalankan adegan mengocok dengan gerakan penis muncul masuk lubang memek Bu Maya. Nikmat sekali memek ini, pikirku. Bu Maya rubah posisi , dia diatas, dan bukan main permainannya, goyangnyanya.

”Remas tetekku Man, remaslah….yang kencang ya ?” Pintanya. Aku meremasnya.
”Cium bibirku Man..cium ? Aku mencium bibir indah itu dan kuisap lidahnya dalam-dalam, nikmat sekali, sesekali dia mengerang kenikmatan.
”Sekarang isap tetekku, teruskan…terus…..Oh….Ohhhh…..Man…Leman…Ohhh…aku muncul Man….aku kalah” Dia mencubiti pinggulku, sesekali tawanya genit.
”kamu curang….aku kalah” ujarnya.
”Sekarang gilirang anda Man….keluarkan sebanyak bisa saja ya? ” pintanya.
”Saya sudah muncul dari tadi Bu, tapi saya selamanya bertahan, cemas Ibu marah nanti” Jawabku.
”Oh Ya?…gila..kuat terlalu anda ?!” balas Bu Maya sambul mencubit pipiku.
”Kenapa Ibu senang main di tempat begini gelap ?”.

”Aku senang alam terbuka, di alam terbuka saya bergairah sekali. Kita bakal lebih kerap melacak tempat layaknya alam terbuka. Minggu depan kami naik kapal pesiarku, kami main diatas kapal pesiar di tengah ombak bergulung. Atau kami main di pinggir sungai yang sepi, ah… terserah kemana anda sudi ya Man ?”

Selesai main, sehabis kami membersihkan alat vital cuma dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari jiregen di bagasi mobil, kami istirahat. Bu Maya yang sekarang tidur di pangkuanku. Kami ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul. Setelah sekian lama istirahat, kontolku berdiri lagi, dan dirasakan oleh kepala Bu maya yang menyentuh batang kejantananku.

Tak banyak komentar celanaku dibukanya, dan saya didalam sekejap sudah bugil. Disuruhnya saya tidur dengan kaki merentang, lalu Bu Maya terhubung celana trainingnya yang tanpa celana didalam itu.

Bu Maya mengocok-ngocok penisku, diurutnya layaknya gerakan tukang pjit mengurut tubuh pasiennya. Gerakan tangan Bu Maya mengurut naik-turun. Karuan saja penisku jadi membesar dan membesar. Diisapnya penisku yang sudah ereksi besar sekali, dimainkannya lidah Bu Maya di ujung penisku.

Setelah itu, Bu Maya menempelkan buah dadanya yang besar itu di penisku. Dijepitkannya penisku kedalam tetek besar itu, lalu di goyang-goyang layaknya gerakan mengocok. ”Giaman Man ? enah anggak ?”
”Enak Bu, awas lho nanti muncrat Bu” jawabku..
”Enggak apa, ayo keluarkan, nanti kujilati pejuhmu, saya sudi kok ?!” . Bu Maya tetap giat bekerja giat, dia berusaha untuk memuaskan aku.

Tak lama kemudian, Bu Maya naik keposisi atas dan layaknya menempati penisku, tapi lobang memeknya dimasuki penisku. Digoyang terus…hingga saya merasakan nikat yang luar biasa.

Tiba -tiba Bu Maya terdiam, berhenti bekerja, lalu berjata :” Rasakan ya Man ? pasti anda bakal ketagihan ” Aku membisu saja. dan ternya Ohh….memek Bu Maya mampu jalankan gerakan empot-empot, menyedot-nyedot dan meng-urut-urut batang kontolku dari anggota kepala hingga ke anggota batang bawah, Oh….nikmat sekali, ini yang namanya empot ayam, luar biasa kepiawaian Bu Maya didalam bidang oleh seksual.

”Enak syang ?” tanyanya. Belum sempat saya menjawab, yah….aku keluar, air maniku berhamburan tumpah ditenga liang kemaluan Bu Maya.
”Itu yang namanya empot-empot Man, itulah gunanya senam sex, berarti saya berhasil latihan senam sex selama ini ” Katanya bangga.
”Sekarang anda puasin saya ya ? ” Kata Bu Maya seraya mengambil posisi nungging. Ku tancapkan kembali kontolku yang tetap ereksi kedalam memek bu Maya, Ku genjot terus.
”Yang didalam man…yang didalam ya..teruskan sayang…? oh….enak sekali penismu…..oh….terus sayang ?!” Pinta Bu Maya.

Aku tetap memuaskan Bu Maya, saya tak sudi kalah, kujilati pula lubang memeknya, duburnya dan seluruh tubuhnya. Ternyata Bu Maya orgasme sehabis saya menjlati seluruh tubuhnya.

”kamu pintar sekali Man ? studi di mana ?”
”Tidak bu, refleks saja” Jawabku.

Sebelum kami meninggalkan tempat itu, Bu Maya tetap sempat minta satu adegan lagi. Tapi kali ini cuma sedikit melorotkan celana trainingnya saja. demikian pula aku, cuma terhubung anggota penis saja.

Bu Maya minta saya melakukanya di didalam mobil, tapi ruangannya sempit sekali. Dengan ada masalah payang kami melakukannya dan selanjutnya toh terhitung mengambil posisinya berdiri dengan tubuh Bu Maya disandarkan di mobil sambil meng-angkat sedikit kaki kanannya.

Sejak selagi malam pertama kami itu, saya dan Bu Maya kerap bepergian muncul kota, ke pulau seribu, ke pinggir pantai, ke semak-semak di sebuah desa terpencil, yah pokoknya dia cari tempat-tempat yang aneh-aneh.

Tak kusadari jikalau saya memang jadi gigolonya Bu Maya. Dan beliaupun jadi sayang padaku, duit mengalir tetap ke kocekku, tanpa dulu saya meminta bayaran. Dia menyanggupi untuk membiayai kuliah hingga tamat, asal saya selamanya selamanya besama Bu Maya yang cantik itu.

Post Top Ad

Your Ad Spot